Tantangan Islam Di Indonesia Sekarang

Penulis Mantan Kadis KOminfo Provinsi Bengkulu ( Drs.H.Khairuddin,MM)

Mohon izin saya sedikit berkomentar terkait masalah yang ramai dan aktual dibicarakan saat ini, saya beri judul: “TANTANGAN ISLAM DI INDONESIA SEKARANG”
Presiden RI pada tahun 1985 telah mengingatkan bangsa Indonesia. Era Globalisasi itu akan menerpa dunia. Suka tidak suka, siap tidak siap akan berhadapan dengan kita. Di era ini kita akan berhadapan dengan berbagai negara dan bangsa yang mempunyai berbagai kepentingan untuk negaranya dengan berbagai cara, seperti menciptakan berbagai isu negatif suatu negara, mengadu domba pemeluk agama, organisasi, antar suku, agama dll. Inilah yang dinamakan PERANG ASIMETRIS. Mereka lakukan secara halus, dengan cara :
1. Membelokkan sistem suatu negara menurut kepentingan negaranya yaitu Kolonialisme dan Kapitalisme.
2. Melemahkan ideilogy dan mengubah pola pikir rakyat suatu negara, terutama generasi milenium sekarang.
3. Menghancurkan Food Security, Energy Security. Sehingga timbul ketergantungan negara target terhadap produk yang dibuat mereka.
UPAYA MEREKA ;
Dengan membuat konsep SEPILIR= sekuler, pluralisme, liberal, dan radikal.
1. Sekuker, memisahkan agama dengan negara.
2. Pluralisme, membuat konsep semua agama sama. Sampai-sampai ada acara yang penutupnya berdoa dengan cara seluruh agama yang ada, walau tidak ada pemeluknya di tempat itu.
4. Liberal, dengan mengagungkan kemampuan aqal semata. Dalam memecahkan berbagai masalah bangsa.
5. Radikal, lebih berbahaya lagi, terbagi kepada tiga kelompok;
1. Takfirin = merasa dialah yang paling benar. Selain dia itu kafir.
2. Jihadis = mereka membunuh atas nama islam. Perbuatan mereka sebagai jihad.
3. Mengganti ideoligi, kesepakatan nasional pendiri bangsa. Contoh; dulu NII. Sekarang khilapah. Pancasila mau diperas. Akan datang apa lagi ?
Semua itu dilakukan bukan oleh satu negara saja.
Contoh gampangnya; Kita dengan Singapure. Kita terpaksa mengambil BBM hanya boleh melalui Singapure. Sawit kita Prancis yang mematok harganya. Sedangkan mereka tidak punya perkebunan sawit. Amerika tidak mau membeli tekstil kita kalau tidak membeli senjata produk mereka. Demikian pula India.
Ini semua supaya membuka cakrawala kita. Sebagai kajian bersama untuk masa depan indonesia kedepan.

Selain masalah diatas adalah bahaya laten kominis. Secara organisasi mereka telah dibubarkan dengan TAP MPR RI. Namun paham mereka tetap membekas di masyarakat yang menurut Sosiolog Von Wise sebagai warisan sosial orde lama. Sebab masih jelas ingatan saya waktu mengikuti Tarpatnas tahun 1982 di Jakarta. Pembicara dari Lemhanas menfatakan bahwa pada tahun 1965 menjelang meletusnya G.30 S/PKI dalam pidatonya di hadapan massa PKI di Lapangan Banteng, DN Aidit mengatakan bahwa anggota PKI seluruh indonesia berjumlah 65.000 lebih. Sedangkan yang tertangkap zanan Orde Baru hanya sekutar 12 000 orang saja. Mereka sangat licik. Sebelum mereka memberontak maka kepengurusan partai diganti semua dengan orang-orang cuma baru. Sedangkan pengurus terasnya tidak ada dalam dokumen. Sehingga yang ditangkap itu banyaklah orang yang justru cuma ikut-ikutan. Inilah di zaman orde Baru disebut “bahaya laten”.
Sehak zaman Reformasi ini anak-anak keturunannya bangkit dan secara terang-terangan menyatakan jati diri mereka. Mereka telah beberapa kali mengadakan rapat secara nasional.
Untuk itulah perlu dicermati dan diwaspadai terutama kepada generasi milinial. (rdks)

 

Bagikan Ini :